just my two cents · Racauan

Citraan

Menurut kamus Bahasa Indonesia panutan saya, makna citraan (kita biasa dengar dengan kata “pencitraan”)… citraan/citΒ·raΒ·an/n Sas cara membentuk citra mental pribadi atau gambaran sesuatu; kesan atau gambaran visual yang ditimbulkan oleh sebuah kata, frasa, atau kalimat, dan merupakan unsur dasar yang khas dalam karya prosa dan puisi Biasanya, istilah ini diberlakukan bagi pejabat (atau calon… Continue reading Citraan

Blogroll · Bunda Ilman dan hari-harinya · Racauan

Everyone Is Special

You are special, you’re the only one You’re the only one like you There isn’t another in the whole wide world Who can do the things you do Oh, you are special, special, everyone is special Everyone in his or her own way Oh, you are special, special, everyone is special Everyone in his or… Continue reading Everyone Is Special

Bunda Ilman dan hari-harinya · Racauan · Uncategorized

Life Update of Peni (Jul to Sept 2013)

Nyontek postingan Natnat, ah *iya, saya tau, saya nggak kreatip, suka nyontek. Kreatipnya betulan pake p, biar nampol :P*

Eh, nyontek apa nih?

Nyontek life update. Biar ada alesan ngisi blog saya di sini yang udah lama saya tinggalin… *sapuin sarang laba-laba dan debu*

What’s new?

Banyak. Mungkin mau posting update tiga bulan terakhir aja. Semacam flash news πŸ˜€

 

Saya akan mulai dengan bulan Juli.

Secara mendadak (atau saya aja yang emang nggak pernah updated sama gosip kantor?), kami disuruh beberes di bulan Juni akhir dan pindah markas dari jalan Gambir Anom (daerah Sukaluyu) ke jalan Cilaki (markas utama). Jadi, per Juli 2013, makhluk Prodev bergabung dengan makhluk-makhluk dari dimensi lain di Cilaki ini. Yang jelas, sih, saya sempat melow banget menjelang kepindahan kami ke Cilaki. Empat tahun yang kami habiskan di Gambir Anom itu penuh dengan sejarah, yang cuma kami bersekian rasakan dan selalu berbekas di hati.

Memulai bulan Ramadhan dengan bahagia. But in the end, tepatnya menjelang akhir Juli, kakak Ilman sakit. Demam 4 hari, terus pas kami bawa ke RS Santosa, dari hasil tes darah rutin, leukositnya tinggi banget. Artinya ada infeksi. Sebetulnya, bisa rawat jalan, kok. Minum AB, kata DSA-nya. Tapi, berhubung sulit banget menyuapkan obat ke kakak Ilman plus pasti muntah, akhirnya kami memutuskan untuk rawat inap, supaya bisa diinfus. Alhamdulillaah, bisa dapat kamar Junior Suite. Jadi, kami nggak harus berbagi kamar dengan orang lain.

Ada kisah “lucu” sewaktu kakak Ilman harus diinfus. Sebetulnya, kepanikan kami saat memikirkan kakak Ilman mau dirawat inap di RS adalah “gimana caranya kakak Ilman akan hidup bersama infus?” Well, dengan kakak Ilman yang dipegang aja nggak mau, gimana dengan diinfus? Pas udah dapat kamar, saya ngasih tau perawat, kayaknya butuh sekitar 4-5 orang buat megangin Ilman saat diinfus. Semula, perawat sempat terkejut, soalnya, kok, saya kayak lebay gitu. Syukurlah, perawatnya nurut πŸ˜€

Jadi, di ruang tindakan, sudah siap sebanyak lima orang perawat. Dan kakak Ilman yang emang seharian itu nangis dan teriak-teriak mulu, dipegangin oleh kami berenam. Iya, lima perawat ditambah saya. Papanya memutuskan menunggu di luar. Silakan dibagi tugasnya, mereka megangin apa aja πŸ˜›

Yang jelas, sih, ada satu perawat yang bertugas mencari nadi dan menusukkan jarum infus. Bisa ditebak. Ilman meronta dan menangis. Ketika meronta sekuat tenaga sambil mleweran nangis, ada salah satu perawat yang kasih lihat semacam stiker bergambar Teddy Bear ke Ilman lalu bilang, “nanti dipasang Teddy Bear, lho… jadi jangan nangis, yaaa….”

Alhamdulillaah, proses infus nggak makan waktu lama. Entah karena nadi Ilman mudah ditemukan, entah karena perawatnya udah hebat, entah karena apa, deh, pokoknya tau-tau udah aja. Pas kelar dan mau dibawa ke kamar 745, Safir Barat, perawat bilang, “Nah, udah selesai, kok, Ilman…”

Ilman tau-tau bilang, “Teddy bear…” sambil sesenggukan.

Dan ekspresi memelasnya ini bikin para perawat tertawa. Saya juga, sih. Lalu, saya bilang, “Ada, Kak. Ngumpet di bawah perban.”

pas kelar diinfus

Seharian itu, Ilman sibuk dengan tangisannya. Saya sendiri tiba-tiba kena flu. Hari itu saya merasa sangat menderita, karena sedang puasa, kepala pening, meler hebat, badan lemas, harus nunggu berjam-jam hasil lab plus dokter yang ga kelar juga meeting. Begitu udah dapat kamar, saya pikir bisa langsung tiduran, ternyata nggak, karena Ilman nangis melulu. Hiks…

Begitu maghrib, saya baru buka puasa dengan air putih, ada tamu yang datang. Karena saya merasa nggak enak nggak punya apa-apa buat ditawarin. Dan akhirnya saya baru makan jam sepuluhan. Badan remuk. Flu parah. Untung sejak jam 19, Ilman sudah tidur.

Dan besoknya, ternyata Ilman mulai terbiasa dengan infus. Bahkan dia sudah nggak demam lagi. Menari-nari di atas tempat tidur yang bisa diatur ketinggian dan lipatannya oleh remote. Dia sangat menikmati menjadi anak Bunda dan Papa tanpa gangguan Adek Zidan πŸ˜€

Daaan… karena saya stay di rumah sakit berhari-hari, sayapun nggak menyusui Adek Zidan yang ternyata… mungkin inilah saat-saat penyapihan itu. Harus dibayar mahal dengan nginap di rumah sakit ala hotel itu.. -_____-”

udah boleh pulang, tapi belum mau berpisah sama infusan πŸ˜€ jadi ini dipasang seolah-olah masih pake infus… hihi…

Lalu, ini update bulan Agustus 2013.

Dua hari menjelang hari Raya Idul Fitri, Ilman boleh pulang. Yang berarti, kami jadi mudik ke Garut. Ternyata, nggak cuma mudik ke Garut. Kami ke Bandung, Garut, Bogor, Bandung, Garut, Bandung. Terus keliling Bandung sampai masa cuti habis. Terus, masuk kerja sekitar tiga hari, lagi-lagi saya harus bolos, Kali ini, giliran papa Ilman yang demam tinggi dan linu. Sekitar pekan terakhir Agustus. Lagi-lagi saya harus bolos. Setelah dapat hasil lab, positif harus stay di rumah sakit. Jadi, si Demam Berdarah dan Typoid diborong semua sama Mister Kakang πŸ˜€

mister kakang yang terbaring karena duet typoid plus demam berdarah

Kali ini agak “apes”, soalnya nggak dapat kamar Junior Suite karena semua kamar di RS Santosa penuh nuh nuh nuh. Alhamdulillaah, kami akhirnya bisa dapat kamar kelas 1. Lumayan, lah. Dan yang melegakan karena dapat kamar dekat jendela besar. Hiburan buat saya adalah bisa menyaksikan sunrise, kereta api yang datang dan pergi, juga pesawat yang lalu lalang. Masya Allah… Kalo udah begitu, meski lelah, saya bersyukur dikasih kesempatan menikmati kebesaran Allah lewat pemandangan indah itu… Nggak jadi, deh, bilang “apes”nya. Plus dikasih pemandangan indah, kok. Perawatnya banyak yang lucu. Perawat cowok, maksudnyaaa πŸ˜› Ada yang mirip aktor Korea. Sayang, nggak ada yang mirip sama Kimutaku. Bagus juga, sih. Nggak ada yang mirip Kimutaku. Ntar saya ga fokus jagain suami sakit πŸ˜› *iya ini curhat abis :P*

begitu pulang dari RS, adek Zidan langsung nemplok di pangkuan papanya yang masih lemes. Diguntingin kuku jugak πŸ˜›

Sekarang, update bulan September 2013

Juli, Agustus ada pasien. Bulan September juga sama. Kali ini giliran adek Zidan yang sakit. Setelah demam lima hari, dibawa ke UGD RS Santosa. Alhamdulillaah, dari hasil tes darah rutin nggak ada yang membuat adek harus dirawat di rumah sakit. Jadi, bisa rawat jalan aja di rumah.

Oya, pas adek periksa darah, malah ibunya yang nangis. Soalnya, adek kelihatan nahan sakit tapi dia nggak nangis. Minum obatnya juga pinter, kok. Alhamdulillaah, cepat sembuhnya. Dan udah ngeratak juga nyanyi-nyanyi lagi.

adek bantuin yangti kupas telur. chef wanna be? πŸ˜€

Trus, apa lagi, ya? Oh. Sebetulnya ini kejadian di bulan Juli, sih. Sefolder berisi seluruh kit scrapbook hasil beli plus karya saya lenyap, karena komputer yang saya pakai sempat crash. Jadi, saya harus merelakan sekitar 2-4 jeti yang udah saya habiskan buat beliin itu kit. Nangis? Iya. Kalo ada yang disebut air mata darah, mungkin udah saya keluarin saat itu.
Nggak bisa direcovery? Belum tahu. Masih cari tahu caranya… Semoga ketemu, ya… Soalnya, niat mulia saya adalah bikin photobook buat kumpulan scrapbook yang udah saya kerjain setahun ini… T____T

Nah, segini aja dulu apdet saya per tiga bulan ini. Sebetulnya ada banyak curhat yang pengen ditumpahin di sini… πŸ˜€

Tapi, saya harus melongok blog yang lain buat disapu jugak.. Senang ketemu kalian lagi… mwah mwah mwah….

Racauan · Uncategorized

Punya, Pakai, Pahami, Definisikan *Judul Paling Lebay yang Pernah Saya Tulis*

Pagi tadi, di angkot, saya kan baca buku dari iRiver e-book reader. Ada seorang anak kecil, perempuan, kayaknya seumuran Ilman atau lebih gedean dikit, deh, cari perhatian gitu. Ngeliatin, sih, awalnya. Terus kepalanya muter-muter gitu. Mencoba mengalihkan pandangan saya dari e-book reader ke dia. Ketika saya mendongak, terjadilah percakapan ini…

Anak kecil: “Kakak, ini aipet, ya?”
Me: “Bukan, Dek. Ini e-book reader”
Anak kecil: “Apa?”
Me: “iibuuuuk riiiiideeer”
*intermezzo sebentar: Saya dipanggil “kakak” sama anak kecil!Β 
Anak kecil: “Ibuk rider itu apa?”
Me: “Ibuk rider itu alat buat baca ibuk”
Anak kecil: “Ibuk itu apa?”
Me: “Buku”
Anak kecil: “Bukunya kok ga pake kertas?”
Me: “Soalnya ibuk emang bukan buku kertas. kertasnya ada di dalem sini…”
Anak kecil: nyentuh-nyentuh ebook readerku “Mana, ga ada kertasnya… kakak bohong, ah”
Si ibu anak ini membentaknya, “ga boleh ganggu kakaknya! kan lagi belajar!”
errr… satu “pujian” lagi. Saya dibilang sedang belajar…
Padahal, saya sedang memutar otak, gimana caranya menerangkan e-book kepada anak seumuran ini… Belum pernah terpikir…
Me: “Ish, Bu, gapapaa… Namanya juga belum ngerti. Sini, deh, Kakak lihatin… Bukunya nempel di sini. Kayak di komputer gitu. Tau, kan?”
Anak kecil: angguk-angguk “Kok ga berwarna?”
Me: “Karena ini ibuk rider”
Me: “Gini, Dek.. Kalo ibuk rider itu, tinta berwarnanya mahaaaal banget. Ini kayak buku biasa aja gitu.. ga perlu pake warna. Yang penting kebaca.”
Apakah si anak ini puas? Saya percaya tidak. Toh, akhirnya saya turun duluan sebelum memuaskan pikiran si anak akan benda-apa-yang-saya-pegang itu.
Dan ini jadi pelajaran buat saya, untuk lebih detail lagi dalam memanfaatkan sesuatu *dalam hal ini menggunakan barang bernama gadget* dan mampu membuat deskripsinya suatu saat dalam berbagai situasi, terutama jika ada orang yang interest dan bertanya. Sepanjang ingatan saya, ini kedua kalinya, e-book reader saya menarik perhatian orang tertentu sampai bertanya.
Yang pertama dulu, dosen Unpad, kalo nggak salah. Dia nanya, “apa itu? iPad?”
Kayaknya, kalo saya bawa iPad, ga berani saya buka di angkot, deh…. Lalu percakapan bergulir karena beliau menduga saya masih kuliah… Oh, well, benar, Pak. Saya kuliah di Universitas Kehidupan namanya. Lulusnya kalo nanti mati. Mungkin, sih πŸ˜€

Kedua, ya anak tadi.

Bisa jadi, besok atau besoknya lagi atau kapaaaan lagi, saya bakalan dapat pertanyaan yang sama. Saya harus siapin jawaban, nih!

Lalu, apa inti posting ini?

Saya bahagia disebut kakak oleh anak seumuran anak saya? Mungkin! Tapi bukan itu!

Intinya adalah, kepedulian saya terhadap sekitar saya. Pakai gadget bukan semata-mata pakai, tapi andai ada yang bertanya, saya mampu mendefinisikannya, menjelaskannya tanpa harus muter-muter dulu. Karena saya ini termasuk penggugup, saya suka bingung, ngehang, kalo tiba-tiba ditanya sesuatu yang saya nggak siap jawabannya di kepala. Jadinya ya saya nggak punya kalimat efektif yang langsung tepat guna untuk dipahami, apalagi oleh anak sekecil itu.

Kalo ada yang bertanya, seperti apakah penampakan e-book reader saya?

ebook reader dan teman-temannya

 

makin ga fokus. kok malah pamer e-book reader di sini, ya?

kapan-kapan saya buat reviewnya, deh, tentang gadget saya yang satu ini. Siapa tau, kalo akhirnya bikin review, saya nemuin kalimat singkat padat jelas yang bisa dingertiin sama semua umat. πŸ˜€